Ada beberapa alasan kenapa kita harus berwakaf, terutama wakaf uang.
Karena Kita Cinta Harta Kita.
“Sungguh hartanya adalah apa yang telah ia infakkan (wakafkan) dan harta ahli warisnya adalah yang ia tinggallakan (tidak diinfakkan/tidak diwakafkan).” (HR. Bukhari)
Eka Tjipta Widjaja adalah salah satu konglomerat yang bersinar bisnisnya di Indonesia, menurut Majalah Globe Asia Pada tahun 2018 Eka Tjipta Widjaja merupakan orang kaya kedua di Indonesia. Melalui bendera usaha Sinar Mas Groupnya Eka Tjipta memiliki harta asset senilai Rp201,5 Triliun. Pada Tahun 2019 di usianya yang ke 98 Eka Tjipta Widjaja meninggal dunia. Dan hingga tahun 2022 anak anak Eka Tjipta Widjaja masih meributkan dan memperebutkan harta warisan yang ditinggalkan Eka Tjipta Widjaja.
Sepertinya Pak Eka Tjipta tipikal orang yang mencintai harta warisan ketimbang mencintai hartanya sendiri, hamper satu abad usianya yang dia dedikasikan untuk mencari uang saja melalui gurita bisnisnya, siang malam ia banting tulang untuk mencari uang yang nilainya 201 Triliunan ternyata uang itu emang buat diwarisankan, diturunkan kepada anak dan keturunannya dan ternyata terbukti benar, anak anaknya ribut dan berebut masalah harta peninggalannya.
Seorang muslim seyogyanya hartanya adalah yang dia cintai bukan harta warisannya, seorang muslim yang selama mudanya dia habiskan waktunya mencari uang dan tidak mengenal waktu tidak mengenal lelah didalam mencarinya, tidak menghiraukan cobaan dan ujian didalamnya, maka sudah sepantasnya apa yang sudah dia dapatkan berupa uang yang dia timbun di Bank dan harta benda lainya yang bergerak atau tidak bergerak yang tersebar di beberapa tempat dan daerah, dia cintai. Dia nikmati.
Bagaimana cara mencintainya? Bukankah seseorang sudah otomatis akan mencintai hartanya bila mereka punya harta? Jawabannya adalah tidak otomatis. Seorang Muslim akan terjebak hidupnya didalam mengelola hartanya seperti Pak Eka Tjipta. Dimana harta warisannyalah yang dia cintai. Apa yang salah bila dia mencintai harta warisannya, harta yang dia tinggalkan untuk anak dan keturunannya? Tidak ada yang salah, harta yang dicarinya itu, harta yang dikumpulkannya itu, itu dinikmati oleh anak dan keturunannya. Kalau timbangannya adalah dinikmati oleh anak dan keturuananya. Maka muslim yang memang tulang punggung utama atau yang utama yang mencari harta itu di keluarganya, di rumah tangganya, maka lebih berhak lagi menikmatinya. Dan cara mencintai hartanya adalah dibawa ke alam kubur dan bawa ke alam akhirat dengan menginfakkan, mewakafkan harta bendanya tersebut di Jalan Alloh. Itu cara mencintainya, itu cara menikmati harta yang dikumpukan selama hidupnya di Dunia. Mari kita lihat teks hadits Nabi diatas dengan lengkap.
Dari Abdullah bin Mas’ud rd ia berkata, Nabi saw bersabda:“Siapakah diantara kalian yang harta ahli warisnya lebih ia cintai daripada hartanya sendiri?” Mereka (para shahabat) menjawab, Tidak ada diantara kami kecuali hartanya lebih ia cintai, Beliau saw bersabda: “Sungguh hartanya adalah apa yang telah ia infakkan (wakafkan) dan harta ahli warisnya adalah yang ia tinggallakan (tidak diinfakkan/wakafkan).” (HR. Bukhari)
Jadi Ketika seseorang meninggal, mati jadi mayit dan dikubur maka dia akan diantar oleh tiga hal dan dua hal yang mengantar ini akan kembali kerumah, ikut pulang dan hanya satu hal yang akan menemani, tidak ikut pulang kerumah. Yang tiga hal menemani itu adalah keluarganya, hartanya dan amalnya. Yang dua hal pulang kembali kerumah adalah keluarga dan hartanya (harta warisan) dan satu hal yang menemani mayit, setia didalam kubur adalah amalnya (harta yang dicintainya).
Eka Tjipta tentu uangnya yang 201 Triliun tentu tidak ikut kekuburan, tidak ikut dikubur, uang itu tetap di Bank atas Namanya, itu uang yang dicarinya mati matian selama hampir satu abad. Apa lagi rumahnya yang mewah yang berada Dimana mana, begitu juga dengan tanahnya yang tersebat diberbagai tempat, boro boro ikut mengantar.. enggak.
Kalua Eka Tjipta mewakafkan uangnya 30% dari uang yang dikumpulinnya itu Rp.201 Triliun (sebagaimana yang diajarkan Islam) yakni sebesar Rp.60.300.000.000.000 (enam puluh triliun tiga ratus milyar) ke Nazhir Wakaf kemudian uang wakafnya di taro dalam sukuk dengan nisbah 6% pertahun maka hasil uang wakaf Eka Tjipta sebesar Rp.3.618.000.000.000 (tiga triliun enam ratus delapan belas milyar) dibagi 365 hari, maka Eka Tjipta sudah dikubur di dalam kubur bisa bersedekah setiap hari sepanjang usaia kematiannya adalah Rp.9,900.000.000.000 (Sembilan milyar Sembilan ratus juta). Itu namanya menikmati harta yang sejati. Itu namanya mencintai harta. Tapi sayang Eka Tjipta bukan seorang muslim.
Dan bila saya memiliki harta sebanyak Pak Eka Tjipta Rp.201,5 Trriliun. saya akan nikmati harta tersebut sebanyak 30%, saya bawa mati harta tersebut dan saya bawa ke dalam kubur bahkan saya akan bawa ke akhirta dengan cara saya wakafkan, karena saya tahu hanya wakaf harta bisa dibawa mati, dibawa kealam kubur





Lembaga Edukasi Literasi Wakaf Indonesia (EDULWIS)
Hadir sebagai lembaga yang berkhidmat untuk terus menerus memberikan edukasi dan literasi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam hal perwakafan.