Kalau anda pernah menonton TV disaat Bulan Ramadhan kemudian mengulas tentang seseorang yang membayar zakat maal – muzakki,kalau dalam istilah fikih- dengan nominal puluhan juta atau ratusan juta. Katakanlah berzakat sebesar Rp.100.000.000 dan katakanlah nama muzakki tersebuta Pak Ahmad, tentu anda akan berdecak kagum pada Pak Ahmad dan bisa jadi anda akan mangatakan Pak Ahmad adalah orang yang dermawan. Tetapi sesungguhnya harta zakat yang dikeluarkan dari kantong pribadinya Pak Ahmad bukanlah uangnya, tapi uang Rp.100.000.000 tersebut sejatinya memang uangnya fakir miskin, haqnya fakir miskin, kepunyaannya fakir miskin dimana Pak Ahmad berkwajiban mengeluarkan 2.5% dari nilai harta yang dimilikinya saat bulan Ramdhan itu yang berjumlah Rp.4.000.000.000.- (empat milyar). Dan sejatinya uang yang benar benar milik Pak Ahmad adalah 3,9 Milyar. Kok bisa begitu? Emang seperti itu, 2.5% (sebagai nishob harta Pak Ahmad ) dari 4 milyar adalah 100 juta.
Kalau mau dikatakan Pak Ahmad adalah orang yang dermawan, maka ketika Pak Ahmad memiliki uang sebesar 3,9 Milyar kemudian mewakafkan uangnya sebesar 1,9 Milyar kepada Nazhir Wakif (Lembaga yang mengelola harta wakaf) untuk kepentingan fakir miskin. Bukan hanya itu Pak Ahmad juga mewakafkan 50 pintu kontrakannya dari jumlah 200 pintu kepada nazhir wakaf untuk kepentingan fakir miskin dan anak anak terlantar.
Perbuatan wakaf Pak Ahmad bukan hanya sekedar disebut orang dermawan akan tetapi Alloh melihatnya, Alloh memandang perbuatan Pak Ahmad tersebut dengan sebutan Al Birru (Kebajikan yang sempurna) sebagaimana Alloh abadikan orang orang yang memiliki pribadi berwakaf tersebut didalam Al Qur’an Surat Ali Imran (3) ayat 92.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتّٰى تُنْفِقُوْا مِمَّا تُحِبُّوْنَ ۗوَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ شَيْءٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌ
Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.
Lalu apakah Kebajikan yang sempurna itu, sebutan untuk maqom tertinggi bagi orang yang mau dan gemar berwakaf. Biaarkan Para keluarga Alloh – Ahli Tafsir – yang menjelaskannya.
Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, Professor Fakultas Al-Qur’an Univ Islam Madinah:
hai orang-orang beriman, kalian tidak akan meraih pahala kebaikan berupa surga hingga kalian menyedekahkan (Wakafkan) apa yang kalian cintai. Dan segala yang kalian sedekahkan baik itu banyak maupun sedikit diketahui oleh Allah, dan Dia akan membalas kalian atas sedekah itu.
Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H
Maksudnya, “Kamu sekali-kali tidak sampai” dan tidak akan mendapatkan “kebajikan”, yang artinya adalah sebuah kata yang menyeluruh tentang kebajikan, yaitu jalan yang menyampaikan kepada surga, “sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” dari harta kalian yang terbaik dan paling istimewa. Hal itu karena berinfak (berwakaf) dengan apa-apa yang baik lagi disayangi oleh jiwa merupakan tanda yang paling besar dari kelapangan jiwa dan sifatnya yang mulia, kasih sayangnya dan kelembutannya, dan juga merupakan tanda yang paling jelas tentang kecintaannya kepada Allah dan sikap mendahulukan Allah atas kecintaan terhadap harta yang sangat dicintai oleh jiwa.
Karena itu, barangsiapa yang mendahulukan kecintaan kepada Allah atas kecintaan terhadap dirinya sendiri, maka sesungguhnya ia telah mencapai puncak kesempurnaan, demikian pula bagi seseorang yang menginfakkan hal-hal yang baik dan berbuat kebajikan kepada hamba-hamba Allah, niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya dan membimbingnya kepada perbuatan-perbuatan dan akhlak-akhlak yang tidak mungkin dapat diperoleh dengan selain kondisi seperti ini.
Demikian juga, barangsiapa yang menunaikan infak dengan bentuk yang seperti ini, niscaya pelaksanaannya terhadap amalan-amalan shalih lainnya dan akhlak-akhlak yang mulia adalah lebih baik dan lebih patut. Di samping berinfak dengan hal-hal yang baik merupakan bentuk yang paling sempurna, maka seberapa pun seorang hamba berinfak, baik sedikit maupun banyak dari yang baik atau lainnya, “maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Allah akan memberikan ganjaran kepada setiap orang yang berinfak sesuai dengan amalannya, dan Allah akan membalasnya di dunia dengan segera memberikan gantinya dan di akhirat dengan kenikmatan yang tertunda.
Tafsir Ibnu Katsir (Ringkas) / Fathul Karim Mukhtashar Tafsir al-Qur’an al-‘Adzhim, karya Syaikh Prof. Dr. Hikmat bin Basyir bin Yasin, professor fakultas al-Qur’an Univ Islam Madinah
Diriwayatkan ari Amr bin Maimun, tentang (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan) Dia berkata, “Kebajikan itu adalah surga”
Diriwayatkan dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah mendengar Anas bin Malik, dia berkata, “Abu Thalhah adalah salah satu kaum Anshar yang paling kaya di Madinah. Hartanya yang paling dia cintai adalah kebun kurma Bairuha’ yang berada di depan masjid. Nabi SAW sering masuk ke kebun itu dan minum air yang ada di sana. Anas berkara, ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) Abu Thalhah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah berfirman (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai) dan harta yang paling aku cintai adalah kebun kurma Bairuha’, ini adalah sedekah untuk Allah. Aku berharap agar kebun ini menjadi amal kebajikan di sisi Allah. Tempatkanlah kebun ini, wahai Rasulullah, sesuai dengan kehendak Allah.” Lalu Nabi SAW bersabda, “Itu benar, itu adalah harta yang menguntungkan.” Aku telah mendengar “Aku melihat kamu memberikannya kepada kerabat” Lalu Abu Thalhah berkata “Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah” Lalu Abu Thalhah membaginya kepada kerabatnya dan sepupunya.
Ibnu ‘Utsaimin bertutur : hendaklah setiap insan mengemalkan ayat ini walaupun hanya sekali, jika ia mencintai sesuatu dari hartanya, maka hendaklah ia bersedekah (berwakaf) dengannya; semoga ia meraih kebaikan ayat ini.
Masikah anda tidak tergerak buat berwakaf?





Lembaga Edukasi Literasi Wakaf Indonesia (EDULWIS)
Hadir sebagai lembaga yang berkhidmat untuk terus menerus memberikan edukasi dan literasi kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia dalam hal perwakafan.